Loading...

Santri Karirnya Cenderung Telat Namun Fondasinya Kuat

Oleh Ahmad Elnahrowi | Umum | 18 Apr 2026

Cover Artikel

Bayangkan, ketika santri rentang usia 22-27 tahun baru lulus dari pesantren, sedangkan teman sebayanya sudah berkarir, entah jadi ASN, pengusaha, sampai yang terbang ke Jepang. Ketika yang lain sudah melenting, si santri boro-boro berkarir, hidupnya di masyarakat baru saja start. Apabila dipikir secara matematis, jelas santri telat memulai karirnya, namun di situlah jiwa santri bisa kuat.

 

Menariknya lagi, selama bertahun-tahun di pesantren tidak mempelajari ilmu yang secara langsung berguna dibidang profesi, alias tidak diprioritaskan Hard Skill atau keahlian tertentu, santri fokus berkutat dengan Soft Skill, adab dan penguatan mental, sambil sesekali mempelajari hard skill.

 

Disaat teman sebayanya pada menggendong anak, santri menggendong kitab, saat teman masa kecilnya memandikan anak, dia repot ngantri jeding, bahkan tatkala temannya sudah mampu memberi uang kepada orang tuanya, malah si santri masih minta kiriman.

 

Usia yang secara angka tidak wajib diberi nafkah, namun secara keadaan santri masih wajib dinafkahi orang tua, karena masih mencari ilmu.

 

Yaps, apakah itu bermasalah? Tidak. Dengan catatan santri di pondoknya tetap belajar, pondasinya di perkokoh sampai benar-benar bakoh. 

 

Memang yang dipelajari 'itu-itu' saja. Misal selesai Akhlakul Banin, ganti Ta'lim Mutaalim sampai ke Ihya' Ulumuddin. Di bidang Fiqih, tidak cukup Fathul Qorib, berjenjang terus hingga Mu'in bahkan Mahalli. Belajar hadits juga demikian, setelah Arbain Nawawi, naik ke Bulughul Marom hingga ke Sohih Bukhori sampai ke syarah-syarahnya. Secara kasat mata, kitab-kitab itu tidak secara langsung berkaitan dengan karir, namun tidak jauh-jauh dari tazkiatun nafs, soft skill dan self improvement.

 

Sekilas memang terkesan bertahun-tahun 'membuang usia' di bidang yang sama yaitu penguatan karakter. Namun hasilnya, bertahun-tahun itu pondasinya seorang santri menjadi kuat. Harapannya ketika sedang miskin bisa bersabar tanpa protes ke Allah SWT sembari selalu berusaha memperbaiki keadaan. Ketika diposisikan kaya, mentalnya sudah kuat menjadi dermawan, tidak sombong selalu eling dan waspodo.

 

Walhasil, perjalanan karir santri memang terkesan lambat, karena selalu berkutat di pondasi yang amat lama pembangunannya. Tapi ketika ditempa masalah apapun tidak akan terpengaruh dan tetap kokoh. Pun sewaktu-waktu gedung bernama santri tadi mau ditinggikan berlantai-lantai, selalu siap tanpa khawatir roboh.

 

Sedikit berbeda sama pemuda yang karirnya cepat melesat ke atas dengan pondasi yang rapuh, ibarat gedung yang terburu-buru ditinggikan tanpa pondasi yang memadai, digoyang sedikit saja bisa ambrol dan rawan jebol.

 

Kita bisa melihat hasilnya, santri yang 'menua' di pondok tadi, sewaktu-waktu diberi amanah, takut dengan korup, bisa menghindari kenakalan remaja, ketika ditimpa problematika tidak sampai su1cide. Karena tadi, pondasinya sudah kuat. Santri juga tidak akan mengambil jalan pintas yang tidak pantas, karena dia sadar bahwa hidup itu,

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍۗ

berjalan setahap demi setahap. (Al-Insyiqaq: 19)

 

Well, santri yang masih menua di pondok, perihal karir cukup di pikir jangan sampai over khawatir. Sembari terus memperkokoh pondasi. Sesuai dawuh Nabi Saw,

جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ

"Perkuatlah kapalmu karena laut itu luas nan dalam."

Tentu bila sudah waktunya, jangan lupa segera boyong, Birrul Walidan dan Rabi!

 

Sekian, wallahua'lam.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.