Loading...

Nona-Nona Ibu Kota dan Kisah Abu Yazid Al-Busthomi -Pelajaran Penting Untuk Tidak Berburuk Sangka-

Oleh Ahmad Elnahrowi | Umum | 16 Feb 2026

Cover Artikel

Dapat beberapa hari di Jakarta, saya diajak kawan-kawan ngopi disebuah kafe daerah Jakarta Timur, pengunjungnya rame, maklum karena malam minggu, dan rata-rata sepantaran saya 20-25 tahunan.

 

Pemuda-pemudi itu pada menikmati sajiannya masing-masing, senda gurau dengan temannya, berdua-an bersama pasangan, fokus nggarap tugas, hingga yang cuma nyantai kebal-kebul ngrokok ditemani live musik sambil melepaskan beban pekerjaan yang telah dijalani selama sepekan. Maklum, hiburan ataupun tempat ngopi nampaknya menjadi barang mewah di kota Jantung negara ini. 

 

Sekian menit kemudian, pandangan saya tersita oleh penampilan nona-nona di meja samping saya, busananya lumayan rapi, berhijab, menutup aurat pokoknya terkesan religius, "Ini beneran Jakarta yang kutau keras mirip-mirip Las Vegas itu? ternyata pemudinya ada yang berkelas juga penampilannya, padahal ini tempat hiburan loh." Batinku keheranan.

 

Penampilan nona-nona itu sekilas mengingatkanku dengan vibes Kota Kediri yang kental akan rona-rona santri. Saya kembali tenggelam dengan obrolan kawan-kawan, ketika live musik tadi sampai lagu reff, lampu auto dimatikan, waw seruuu, ini juga mirip suasana setiap malam Jum'at lorong (asrama) Al-Jabbar menikmati libur madrasah dengan 'live musik ala-ala local wisdom santri'. Ujung bambu dibalut ban hitam jadi ketipung, ember besar sebagai drum dan tutup minuman botol sebagai icik-icik.

 

Ketika saya mau melihat panggung live musik, mau ndak mau mata saya harus melewati pemandangan nona-nona tadi, nah lagu selesai, lampu pun menyala, disitulah saya kaget bukan main. Nona-nona yang kulihat bagai bidadari tadi tiba-tiba diantara jemari telunjuk dan jari tengahnya, nyelempit sebatang rokok dengan asap membumbung keluar dari mulutnya. Heuh. 

 

Kejadian ini, kata kawan-kawanku adalah pemandangan basicnya pemudi Jakarta, tentu merupakan hal abnormal bagi saya, karena saya 10 tahun hidup di penjara suci, boro-boro cewek merokok, santri putra ngrokok ndak punya SIM (Surat Izin Merokok) saja kena jerat hukum.

 

Beranjak dari cafe, saya menceritakan culture shock di atas kepada pak Heri, niat hati mau mengadu supaya dibela, namun malah saya yang menjadi tersangka, "Lho mas...prespektif tentang baik dan buruk njenengan harus di upgrade (saya tidak bilang dirubah ya), merokok bagi wanita di sebagian masyarakat dibelahan dunia lain agak sedikit berbeda dengan cara kita memandang." Begitu reaksi bapak Hery, kakak kelas jauh saya di MA Al-Mahrusiyah dulu. 

 

Belum cukup, beliau yang sekarang otw professor ini lanjut menanggapi, 

"Bisa jadi mbak-mbaknya itu dulunya tidak jilbaban, doyan miras, dan jauh dari norma ideal agama. Tapi saat ini dia sedang berusaha menuju jalan_Nya, bisa jadi sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai merubah karakternya, memang tidak sebaik standartnya njenegan, tapi setidaknya lebih baik dari dirinya yang dulu. Mungkin hanya tinggal merokoknya yang tertinggal, sementara miras dan pakainya sedikit demi sedikit sudah diperbaiki." Tandas pak Hery melalui pesan Whatsapp, terlihat beliau serius menanggapi apa yang kualami di atas.

 

Sikap untuk selalu berhusnudzon yang diajarkan pak Hery ini mengingatkan saya dengan kisahnya Sang Waliyullah, Abu Yazid Al-Busthomi, ketika itu Sang Sulthonul Arifin ini mendapat bisikan bahwa ada seorang yang nanti menjadi tetangganya di surga, orang itu tinggal berada di suatu kampung.

 

Barang tentu Abu Yazid penasaran dengan orang yang disebutkan bisikan itu, dicarilah ke alamat kampung tadi, setelah bertanya-tanya, warga menunjukkan kalau laki-laki itu ada di dalam sebuah tempat minuman keras. Abu Yazid mengeceknya, benar saja, orang yang katanya menjadi tetangganya di surga itu sedang bersama 40 orang peminum-minuman keras .

 

Tak ayal Abu Yazid kecewa bukan main, bahkan mengganggap bisikan di atas tadi adalah dari setan, dengan perasaan marah, gethun, dan mutung. Abu Yazid ingin beranjak pergi padahal sudah berkilo-kilo beliau lalui, namun lelaki yang katanya tetangga di surga itu mencegah dan mengetahui isi hati Abu Yazid, kemudian berkata, "Ketahuilah, sebenarnya yang berada di kedai ini semuanya berjumlah delapan puluh orang pemabuk. Tetapi yang empat puluh orang telah aku nasihati dan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Empat puluh orang selebihnya masih bermabuk-mabukan. Tugasmu sekarang yakni menasihati mereka agar bertaubat." Kata lelaki tadi.

Mendengar itu Abu Yazid menangis sejadi-jadinya, ternyata apa yang dia su'udzoni dan dilihatnya secara kasat mata tidak sesuai dengan realita.

 

Jawaban bapak Heri di atas secara tidak langsung memaksa saya harus lebih luas lagi dalam memandang dunia, tidak mudah menghakimi, mengurangi intensitas su'udzon, karena dibalik segala perilaku manusia penuh dengan misteri bisa jadi hanya dia dan Illahi yang tahu. Dan apa yang dialami Imam Abu Yazid di atas lagi-lagi mengajari kita, untuk tidak mudah su'udzon. Kita sebisa mungkin untuk tabayun dan tajannubun dzon. Apalagi menghakimi manusia bukanlah tugas manusia.  

 

Bagi kita hanyalah saling bertanggung jawab dengan kewajibannya masing-masing dan kalau terpaksa nahi mungkar, dilakukan dengan bilhikmah wal mauidzotil hasanah

 

Sekian, Wallohu a'lam.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.