Dalam konteks Konflik PBNU ini, analogi dengan Perang Jamal dalam tarikh Islam terasa relevan. Perang Jamal yang terjadi pada tahun 36 H (656 M) di Kota Basrah, Irak, bukanlah konflik antara haq dan batil secara sederhana, melainkan pertarungan antara dua kubu yang sama-sama memiliki legitimasi moral dan kedekatan historis dengan Nabi Muhammad SAW. Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mukminin, berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah. Keduanya memiliki niat baik menurut keyakinan masing-masing, namun perbedaan ijtihad membawa umat pada tragedi berdarah.
Dalam Perang Jamal, sahabat-sahabat besar berguguran di kedua sisi. Sahabat Thalhah dan Zubair gugur di pihak Aisyah, sementara Sahabat Muhammad bin Abu Bakar, putra Abu Bakar sekaligus saudara tiri Aisyah, berada di barisan Ali dan turut menjadi korban. Tragedi ini menjadi pelajaran pahit bahwa konflik elite, ketika tidak dikelola dengan hikmah, selalu menelan korban dari kalangan terbaik umat.
Demikian pula yang terjadi di PBNU hari ini. Satu per satu tokoh besar NU "jatuh" dalam pusaran konflik. KH. Afifuddin Muhajir, seorang faqih 'allamah yang keilmuannya diakui luas di dunia pesantren, menjadi sasaran hujatan yang tidak proporsional. Pendapat-pendapatnya dibedah bukan dalam forum ilmiah yang beradab, melainkan di ruang publik yang kerap kehilangan etika. Kritik berubah menjadi caci, dan perbedaan pandangan ditransformasikan menjadi delegitimasi personal.
Nasib serupa dialami Prof. Nadirsyah Hosen, akademisi nahdliyin yang rekam jejaknya di tingkat nasional dan internasional relatif bersih dan produktif. Dalam konflik ini, namanya ikut terseret dan "dihabisi" oleh narasi perang kepentingan. Keduanya berdiri di poros Rais 'Aam Syuriah KH. Miftahul Akhyar, dan karenanya ikut menanggung beban konflik struktural yang sesungguhnya lebih besar daripada sekadar perselisihan individu.
Di poros Gus Yahya sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, deretan nama besar pun tidak luput dari serangan. Gus Ulil Abshar Abdalla, cendekiawan NU dengan reputasi pemikiran global, serta Savic Ali Elha, pemikir muda NU yang dikenal tajam dan bernas, menjadi sasaran hujatan dan kritik keras. Bahkan, dalam beberapa kasus, serangan tersebut telah menyentuh ranah etis dan privat, melampaui batas kritik intelektual yang sehat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik PBNU saat ini bukan hanya soal siapa yang benar secara struktural, tetapi juga kegagalan kolektif dalam menjaga adab ikhtilaf. Ketika perbedaan pendapat tidak lagi ditempatkan dalam kerangka ukhuwah, yang terjadi adalah runtuhnya modal sosial dan kultural NU yang dibangun selama ini.
Seperti Perang Jamal yang meninggalkan luka panjang dalam sejarah Islam, konflik di PBNU hari ini berpotensi menimbulkan damage serupa—bukan dalam bentuk fisik, melainkan erosi kepercayaan, kewibawaan ulama, dan keutuhan jam'iyyah. Dua tokoh besar mempertahankan pendapat masing-masing, sementara para "sahabat" mereka, dalam wujud tokoh, kader, dan intelektual NU, berguguran secara moral dan reputasional.
Pelajaran terpenting dari tragedi Jamal adalah bahwa niat baik tidak cukup tanpa kebijaksanaan dalam mengelola perbedaan. NU sebagai organisasi yang lahir dari tradisi keilmuan dan kearifan pesantren sesungguhnya memiliki modal besar untuk menyelesaikan konflik ini dengan jalan islah, tabayyun, dan musyawarah yang bermartabat. Jika tidak, sejarah mungkin akan mencatat konflik ini sebagai salah satu episode menyakitkan dalam perjalanan jam'iyyah Nahdlatul Ulama.
Dan sebagaimana sejarah selalu mengingat Jamal bukan karena siapa yang menang, melainkan karena siapa saja yang gugur, konflik PBNU hari ini pun kelak akan dikenang bukan dari argumen siapa yang paling kuat, tetapi dari berapa banyak tokoh dan nilai luhur NU yang menjadi korban.
Di tengah pusaran konflik yang kian melebar dan telah melahirkan korban moral serta intelektual, para santri dan nahdliyin di akar rumput sesungguhnya menyimpan harapan besar agar para elite PBNU kembali duduk dalam satu majelis islah. Harapan itu kini tertuju pada Musyawarah Kubro di Lirboyo, yang diinisiasi oleh masyayikh sepuh Ma'had Lirboyo, Mbah Yai War dan Mbah Yai Kafa, bersama para sesepuh NU lintas generasi—diantaranya Mbah Yai Dah Ploso, Buya Said Aqil Siradj, Mbah Yai dr. Umar Wahid, dan Yai Kholil As'ad Situbondo. Majelis ini diharapkan bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan ruang batin untuk menundukkan ego, meredam bara konflik, dan mengembalikan persoalan pada khittah kebijaksanaan pesantren.
Musyawarah Kubro di Lirboyo yang akan diselenggarakan Hari ini, 21 Desember, bukanlah forum yang berdiri sendiri. Ia merupakan mata rantai lanjutan dari Majelis Ploso dan Majelis Tebuireng yang telah dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya—dua forum yang lahir dari keprihatinan mendalam para sesepuh NU terhadap arah konflik PBNU. Rangkaian majelis ini mencerminkan ikhtiar dan riyadhah kultural khas NU: menyelesaikan persoalan besar bukan dengan pengerahan kekuatan formal semata, melainkan melalui laku kebijaksanaan, keteladanan, dan kejernihan hati para ulama sepuh.
Para santri berharap Majelis Musyawarah Kubro Lirboyo dapat menjadi majelis "saling asah, asih, dan asuh", bukan arena saling kekeh, angkuh, dan kukuh pada argumentasi masing-masing. Sebab, ketika perbedaan pendapat berubah menjadi pertarungan ego dan legitimasi, yang paling dirugikan bukanlah elit struktural, melainkan umat dan jamaah kultural dari jam'iyyah besar Nahdlatul Ulama. Mereka yang di desa-desa, langgar-langgar kecil, dan pesantren-pesantren sederhana di pelosok negeri, adalah pihak yang paling merasakan dampak kegaduhan di pusat.
Sejarah telah mengajarkan, sebagaimana tragedi Perang Jamal, bahwa konflik elite yang berkepanjangan hanya akan meninggalkan luka kolektif. Maka, bersandar pada haibah para masyayikh, Musyawarah Kubro di Lirboyo diharapkan menjadi ruang ikhtiar terakhir untuk menutup bab konflik ini dengan islah dan hikmah, sebelum keretakan kian menganga. Di sanalah para nahdliyin menggantungkan harapan agar PBNU kembali menjadi rumah besar yang teduh, tempat perbedaan dirawat dengan tirakat dan adab, serta kekuasaan ditundukkan di bawah teladan dan kebijaksanaan.
Sekian, wallahu a'lam bishawab
*Mengambil tulisan Pak Doktor Hery Notariat yang telah publish di Suara Merdeka 😇