Saya mempelajari kitab Khulasoh biografi Nabi Muhammad ﷺ. ini dari SMP, dengan kapasitas otak yang saat itu pas-pasan dan wawasan yang masih lingkup kecamatan, saya tidak begitu menyadari betapa pentingnya makna kitab ini.
Dewasa ini, saya mengaji kitab karangan Syekh Umar Abdul Jabar ini lagi, 1 juz khatam, mungkin dengan cara pandang yang luas. Saya menyadari di kitab kecil ini terdapat begitu banyak pelajaran besar dari Nabi Muhammad ﷺ yang relevan dimasa sekarang, diantaranya:
1. Sang Yatim Yang Tidak Diwarisi Harta Oleh Ayahanda
Pada bab 2 nomor 4, Syekh Umar menjelaskan ayahanda Nabi Muhammad ﷺ wafat tidak meninggalkan harta sedikitpun untuk Nabi ﷺ.
Yaps pelajaran buat kita bahwa jangan terlalu berharap sama hal-hal yang berkaitan dengan legacy maupun warisan. Kapanpun kita musti bersiap menjadi pertamina, "dimuali dari nol".
2. Lahir Saat Negara Kacau Balau
Selain yatim, beliau ﷺ hadir di dunia fana' ini saat keadaan sedang kisruh, dimana raja Habasyah melakukan ekpansi mengirimkan tentara ke Makkah berikut gajahnya untuk menghancurkan Ka’bah.
Artinya, Nabi Muhammad ﷺ lahir benar-benar jauh dari kata nyaman, meskipun begitu setidaknya ketika beliau meninggalkan dunia ini memberi kenyamanan kepada semesta. Jadi teman-teman yang terlahir saat dunia tidak memihak, setidaknya bukan menghambat untuk tetap menebar manfaat.
3. Mejadi Pebisnis Sedari Dini
Meskipun mendapatkan privilege sebagai utusan Tuhan, kanjeng Nabi ﷺ ternyata tetap memulai bisnis dengan mengembala kambing warga lalu mendapat upah sebagai bekal hidup. Di usia 9 tahun beliau ﷺ juga ikut berbisnis dengan pamannya di Syam.
Yaps, beliau mengajari kita, gelar dan nasab setinggi apapun tidak menjadi halangan untuk bekerja walaupin terkesan rendah, yang penting menghasilkan rupiah secara thoyibah.
4. Nabi Muhammad ﷺ Ikut Ro'an Bangun Ka'bah
Di usia 35 tahun, kaum Quraisy merenovasi Ka'bah meskipun sudah dikenal kaya raya dan mulia digolongannya, Nabi Muhammad ﷺ tetap ikut ro'an dan berkeringat saat renovasi Ka'bah, beliau ﷺ turut mengangkat batu bersama Ibnu Abbas, Pamannya.
Nah, moment ini jadi pelajaran penting, meskipun kerjaannya kantoran, jarang kotor atau merasa sudah urun materi secara besar, itu semua tidak menjadi halangan untuk urun tenogo.
5. Mencegah Konflik Regional Dari Peletakan Hajar Aswad
Peletakan hajar aswad ternyata penuh perdebatan, semua ambisi dan merasa berhak meletakkan. Sesuai perjanjian orang yang pertama memasuki masjidil Haram adalah yang berhak meletakan, ternyata kanjeng Nabi ﷺ yang pertama kali masuk.
Beliau ﷺ pun berhak meletakkan hajar aswad.
Namun, beliau ﷺ tidak egois, guna ngedem-ngedem hati pembesar Quraisy, Nabi ﷺ meletakkan batu itu di suatu kain selendang dan meminta dari tiap ketua kaum Quraisy untuk memegang ujung selendang itu. Akhirnya semua merasa 'dianggap'.
Yaps, acapkali dalam suatu acara, kita juga harus peka terhadap siapa saja yang perlu untuk dikasih panggung dan diberi waktu untuk sambutan, biar gaada yang tersinggung, heheu.
6. Mempertahankan Ajaran Leluhur
Sebelum mendapatkan risalah kenabian, Nabi Muhammad ﷺ menjalankan ibadah di gua Hiro dengan ibadah agama kakek beliau, Nabi Ibrahim as, dari sepuluh hari sampai sebulan lamanya.
Yang bisa kita petik adalah, meskipun kita sudah dianugerahi kecerdasan dan hidup di dunia modern, sebisa mungkin tetap menjalankan ajaran-ajaran leluhur yang sekiranya bermanfaat. Bentuk peribadatan Islam-pun juga ada kemiripan dengan ajaran sebelum kedatangan Islam. Beberapa juga terinspirasi dari kisah pendahulu.
7. Takut Miskin, Khawatir Dihina dan Suka Bertengkar Adalah Sikap Jahiliah
Dikitab ini juga disebutkan kehidupan Jahiliah, kebiasaan mereka adalah membunuh anak laki-laki karena takut miskin dan kelaparan. Kaum Jahiliah juga mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka karena malu dan taku di cela. Mereka suka berselisih, bertengkar disebabkan masalah yang sepele dimana segolangan mereka memerangi golongan lain dengan mudahnya.
Nah kebiasaan orang Jahiliah ini, era sekarang secara fisik memang tiada, tapi membunuh mental anak laki-laki, mengubur masa depan perempuan, apakah masih ada??
8. Istri, Sosok Pertama Yang Harus Mendukung Perjuangan Suami
Manusia pertama kali yang beriman kepada Nabi disebut dalam kitab itu adalah Siti Khadijah.
Hal ini memberi pelajaran besar, bahwa support sistem pertama bagi suami bukan orang lain, orang tua atau sahabat, yaps istrilah yang paling pertama mendukung dan mempercayai. Ketika orang dekat mudah diajak sepakat, maka perjuangan bisa jadi lebih melesat.
9. Memulai dengan Dakwah Sembunyi, tidak mengejar Viral
Beliau ﷺ memulai dakwah Islam dengan sembunyi-sembunyi dulu, beliau ﷺ mengajak keluarga, tetangga dan sahabat-sahabat yang beliau ﷺ percayai.
Hal ini mengindikasikan, beliau ﷺ lebih mengejar kualitas dakwah, daripada sekadar kuantitas apalagi popularitas. 3 tahun kemudian beliau ﷺ baru berani 'tampil', itupun disaat usia emosional beliau ﷺ sudah matang, diatas 40 tahun.
Yaps, jadi teman-teman yang tidak sempat atau tidak mampu mempelajari aktivitas Nabi ﷺ dari kitab-kitab besar, kita masih bisa kok mengambil faidahnya dari kitab yang kecil. Tinggal bagaimana saja kita merefleksikannya, tentu lebih baik lagi kalau ada gurunya ya, heheu.
Sekian, wallahu a'lam bishawab