Usia-usia muda kayak kita ini sukanya yang cepat dan singkat. Misal garap skripsi, inginnya pengen cepat kelar. Yang ngejar 30 juz pinginnya buru-buru khatam. Yang ngejar 1002 nadzom inginnya segera jayid jiddan. (Apalagi nyang ngejar jodoh, dengan berbagai spesifikasi tethek bengeknya, duhh)
Padahal kalau terburu-buru seperti ini, meskipun selesai cenderung tidak memuaskan, karena tergoda oleh nafsu, tidak dikerjakan dengan teliti dan hati-hati. Bahkan secara tegas Nabi SAW berstatemen bahwa: العَجَلَة من الشيطان -Terburu-buru datangnya dari syaiton-
Syekh Musthofa Al-Ghulayaini dalam Idhotun Nasyii'ennya menyinggung,
فَالإِسْرَاء قبل التروي دَاعِيهُ الخَيْبَةِ ، وَسَبَبُ الإِخْفَاقِ
وَالتَّأنِي مَعَ التَّحسِين سَبَبُ التَّوْفِيقِ
"Sikap tergesa-gesa yang tidak didahului pemikiran yang matang, menyebabkan kegagalan dan kerugian. Sedangkan perlahan-lahan dalam bekerja dengan tujuan agar hasilnya baik adalah menyebabkan kesuksesan."
Makanya pelan-pelan, digarap dengan teliti, supaya hasilnya tidak mengecewakan. Tidak apa-apa lambat yang penting akurat, daripada cepat tapi malah rungkat.
Seperti Skripsi, bukan tentang seberapa cepat selesai, tapi seberapa potensi sedikit revisi. Begitupula hafalan 30 juz & 1002 nadzom, bukan yang paling awal kelar. Tapi sebagaimana fasih dan lancar serta istiqomah melalar.
Menikah pun juga demikian, bukan siapa paling cepat, tapi bagaimana menjalani rumah tangga bertahan hingga dunia-akhirat.
Makanya yang belum selesai, yang belum ada kepastian, yang belum menemukan ujung bersabar dan nikmati perjalanannya.
Nampaknya kita perlu memakai tips dari Syekh Imam Mawardi ini:
واذا كان مع الرّغبه وقورا، وعند الطلب صبورا، انجلت له عماية الدهش، وانجابت عنه حيرة الوله، فأبصر رشده، وعرف قصده.
Artinya, "Ketika dalam posisi duka suatu perkara maka tenanglah, ketika sedang berusaha bersabarlah dengan begitu hilanglah kebingungan, lenyap kesusahan, jelasnya kebenaran dan nampak kebahagiaan."
Jangan sampai kita menstandarkan proses kita dengan orang lain, inginnya hasil melejit tapi justru mempersulit. Karena setiap latar belakang manusia itu beda-beda, lingkungannya juga beda. Kesiapannya juga beda-beda. Tapi bagaimanapun himmah dan gairahnya tidak boleh reda.
Kita ambil contoh, mahasiswa yang sambil hafalan Qur'an, nggarap skripsinya tidak bisa selancar mahasiswa biasa. Yang sedang mengejar cita-cita, pernikahannya juga tak secepat yang sudah bekerja. Yang sedang LDR dengan suami pun punya anaknya juga tak sesegera yang serumah.
Sebagai hamba kita diperintah untuk berusaha, bersungguh-sungguh, ikhlas, dan mengerjakannya secara baik.
Yang jelas kita tidak boleh silau dengan selesainya orang lain, apalagi sampai membuat hati kacau. Karena buah yang mekar tidak disiram sekali dan padi yang panen, tidak ditanam kemarin sore.
Sekian, wallahu a'lam bishawab.