Tanpa kita sadari, banyak kerusakan itu berangkat dari berlebihan, tak melulu kerusakan disebabkan oleh kekurangan.
Dalam kesehatan, makan gula itu boleh, tapi terlalu banyak akan menyebabkan diabetes. Kolestrol tinggi penyebabnya makan lemak berlebihan.
Merokok pun boleh, namun bila berlebihan akan timbul penyakit paru-paru dan segala turunannya.
Dalam kehidupan sosial interaksi dengan lawan jenis pada dasarnya boleh, tapi jika berlebihan bisa jadi kholwat, taqrobu zina dan itu menjadi haram.
Shodaqoh tentu dianjurkan, namun bila berlebihan juga tidak baik, karena akan timbul pemborosan (Ishrof).
Hemat keuangan memang baik, tapi bila terlalu hemat jadi tidak baik, karena nggak jauh beda sama pelit (Bakhil) (Buka Al-Furqon 67)
Mental health kita pun demikian, terlalu berani bertindak itu menjadikan ceroboh dan ngawur (Tahawur). Tapi kalau tidak berani bertindak sama sekali sama saja penakut (Al-jubnu), maka sikap berani (Syuja'ah) menjadi penengahnya.
Bercita-cita memang baik (Himmah), namun terlalu larut dalam cita-cita tidak boleh, karena menjadi angan-angan kosong belaka (Thulul amal)
Berpikir pun demikian, berlebihan memikirkan segala sesuatu tentu tidak baik, mejadi khawatir, overthinking dan parahnya seolah dia melupakan kendali Tuhannya.
Dalam Beragama pun tidak boleh berlebihan, masih ingat kan tiga sahabat yang satunya sholat malam terus menerus, satunya puasa sepanjang tahun dan satunya tidak menikah, kemudian Nabi Saw menegurnya, karena berlebihan, istilahnya Ghulluw. (Al-Maidah 77)
Pun demikian berlebihan memuji-muji seseorang entah itu pejabat, raja, kiai, gus, habaib, dan bos sekalian pun juga tidak boleh karena akan menimbulkan tidak objektif dalam menilai kebenaran.
Berakidah berlebihan kekiri menjadi liberal, terlalu nganan juga berpotensi radikal, maka moderat adalah pilihan yang cocok.
Bagaimana yang baik? Seperti yang dikatakan Syekh Musthofa Al-Ghulayani yang terbaik adalah bersifat tengah-tengah i'tidal,
مَنْ نَشَدَ الفَضِيلَةَ ، فَلْيَطْلُبُهَا فِي الاعتدال "Barangsiapa yang menginginkankan keutamaan, maka raihlah dengan sikap tengah-tengah" Dawuh beliau dalam kitab Idhotun Nasyiiennya.
Dikitab yang sama beliau Melanjutkan,
فالاعتدال في الفِكْرِ، وَالْمَذْهَبِ ، وَالْمَاكَلِ والمغرب، والملبس ، وَالْبَدْلِ ، وَكُلُّ أَمْرِحِسِي أَوْ
مَعْنَويٌّ ، هُوَ الفَضِيلَة
Sikap tengah-tengah itu berlaku dalam berpikir, bermazhab, makan, minum, berpakaian, memberi dan dalam segala urusan yang bersifat kongkrit maupun abstrak. Semua itu merupakan keutamaan.
Demikianlah tentang berlebihan, dalam kaidah umum pun kita tahu bahwa segala yang berlebihan itu banyak membahayakan, apalagi kalau berharap berlebihan kepada orang lain, duh.
Maka bila kita mengharap selamat dan nikmat, bersikap moderat adalah pilihan, moderat dalam segala sendi kehidupan. Seperti kalam yang sudah masyhur,
خير الأمور أوسطها.
Lantas bagaimana kalau berlebihan mencintai diaaa🤭
Sekian, wallahu a'lam bishawab.