Loading...

Selain Keramat, Berikut Alasan Logis Mengapa Muktamar NU Layak di Gelar di Pondok Pesantren Lirboyo

Oleh Ahmad Elnahrowi | Umum | 02 Jan 2026

Cover Artikel

Konflik super panas di awal abad kedua, PBNU akhirnya islah. Nahdliyyin kemudian menganggap itulah keramat Lirboyo. Kemudian berharap Muktamar bisa dilaksanakan lagi di Lirboyo. Berikut saya akan menawarkan pertimbangan mengapa Muktamar ke-34 PBNU dilaksanakan di Lirboyo, bukan alasan keramat belaka, tapi menggunakan analisis logis dari aspek historis, politis, genealogis, dan teknis.

Mari kita ulas.

 

Aspek Historis

 

Bukti historis menunjukkan Lirboyo nyaris tak pernah absen tiap ada gegeran di negeri ini. Pada era penjajah, Lirboyo menjadi tempat gemblengan santri yang ditugaskan untuk melawan penjajah. Malam pasca Proklamasi, santri Lirboyo merampas senjata di arsenal Jepang. Resolusi Jihad turut mengirimkan ratusan santri dan menjadi basis penumpasan PKI. Semua terlibat, baik kiai maupun santrinya.

 

Apalagi perihal konflik yang berkaitan dengan NU, Lirboyo memiliki sosok Yai Mahrus Aly yang menjadi tumpuan kala ada konflik NU. Ketika banyak kiai dari NU maupun Muhammadiyah ditahan pada era Pemilu 1971–1977, Yai Mahrus Aly menjadi pejuang yang membebaskan. Ketika NU didiskriminasi Orba, Yai Mahrus tampil terdepan dan kerap melawan kebijakan Soeharto. Ketika Orba mencoba menyetir kiai, Yai Mahrus melawan dengan gerakan Islamisasi birokrasi; pegawai mulai berani untuk Jum'atan dan shalat terang-terangan di kantor, saat ketika itu masih banyak yang takut. Singkatnya, Yai Mahrus tidak hanya memperjuangkan NU, tetapi umat Islam secara keseluruhan.

 

Di NU, Yai Mahrus berkali-kali diminta menjadi Rais ‘Am PBNU, tetapi berkali-kali pula beliau menolak. Posisi paling tinggi mentok menjadi Rais Syuriyah PWNU Jatim, padahal saat itu bersama Yai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Ali Maksum menjadi decision maker perihal kebijakan NU. Peran Lirboyo paling krusial tentu ketika mendapat amanah menggelar Muktamar NU pada 21–27 Desember 1999. Muktamar ini paling spesial karena masih dalam euforia setelah terpilihnya Gus Dur menjadi presiden, sekaligus menempatkan Gus Dur sebagai presiden yang berani ke Kota Kediri saat membuka acara muktamar ini. Untuk mengenang perhelatan tersebut, dinamailah Gedung Aula Muktamar dan Gedung An-Nahdloh yang masih kokoh berdiri sampai sekarang.

Singkatnya, secara sejarah Lirboyo sudah sangat berpengalaman menghadapi masalah kenegaraan, apalagi menghadapi perihal ke-NU-an. Terbukti, islah terbaru PBNU diselesaikan di Lirboyo.

 

Aspek Politis

 

Aspek ini menjadi pertimbangan paling penting. Bagaimanapun, Muktamar NU tidak sekadar pertemuan pejuang Nahdliyyin dari seluruh dunia, tetapi juga pertemuan berbagai kepentingan di dalamnya. Muktamar NU sebelumnya sangat sarat dengan kepentingan politik dan isu-isu yang ditunggangi kelompok tertentu. Maka apabila Lirboyo menjadi tuan rumah, setidaknya bisa meredam ataupun mengendalikan siapa pun untuk menaruh kepentingan di situ.

 

Alasannya, Lirboyo menempatkan posisi yang netral, tidak berpihak kepada salah satu calon, apalagi afiliasi partai tertentu. KH Anwar Mansur sebagai tokoh sepuh, baik di Lirboyo maupun NU itu sendiri, sangat jauh dari politik praktis. Begitu pula Buya Kafabihi Mahrus dan gus-gus muda Lirboyo lainnya, nyaris tidak terdengar dalam peredaran politik praktis. Karena Lirboyo sejak berdirinya hingga sekarang fokus pada ilmu dan keumatan, jauh dari kepentingan kekuasaan.

 

Salah satu alasan Sahih mengapa kemarin berhasil islah adalah karena dilandasi keikhlasan tanpa orkestrasi politik sama sekali. Tiga tokoh islah kemarin menjadi bukti: Yai Athoillah, Yoai Abdul Mu’id, dan Yai Muhibbul Aman Aly dikenal tidak memiliki kepentingan pada salah satu pihak dan selama ini dikenal sebagai kiai muda yang jauh dari konflik politik, sehingga pihak mana pun memandang mereka dengan kacamata netral.

 

Maka pihak mana pun yang hendak bermain politik atau kepentingan terselubung akan menjadi segan dan berpikir ribuan kali, karena di sana dipenuhi tokoh-tokoh yang lurus dan tulus, sekaligus tidak mudah untuk dipengaruhi. Lirboyo, jika di serial Naruto, mirip Markas Samura sebagai pihak netrali yang mampu menjadi tempat mendamaikan Lima Kage yang sebelumnya berseteru dan kemudian membangun aliansi yang kuat.

 

Aspek Genealogis

 

Tidak bisa dipungkiri, dari tingkat ranting sampai PBNU, banyak pengurus yang memiliki ketersambungan sanad keilmuan dan nasab (genealogi) dengan Pondok Lirboyo. Pada level grass root, NU semacam menjadi pondok lanjutan bagi alumni Lirboyo. Sangat langka ada alumni Lirboyo yang tidak terjun di NU. Artinya, suara santri-alumni Lirboyo mewakili sebagian besar NU, baik pada tingkat kultural maupun struktural.

Di level atas, nama-nama seperti Gus Mus, Buya Husein, Yai Anwar Iskandar, Yai Musthofa Aqiel Siroj, Yai Said Aqil Siradj, Yai Abdullah Ubab Mz, Yai Harits Shodaqoh, dan masih banyak lagi merupakan kiai yang pernah nyantri di Lirboyo.

 

Maka selain muktamar, ini juga semacam menjadi reuni. Apabila ada sesuatu yang panas, bisa cepat didinginkan. Tentu akan sungkan bila mau ribut di rumah gurunya. Masih ingat Rikudo Sennin? Dialah yang mampu mendamaikan Chakra Asura dan Indra sekaligus memberi kekuatan besar pada Naruto dan Sasuke yang berusaha mendamaikan dunia. Rikudo yang menguasai segala jurus ninja, begitupula Lirboyo yang menguasai berbagai perangkat ilmu yang dibutuhkan NU.

 

Aspek Teknis

 

Sebelumnya, saya cukup memaklumi apabila suatu acara NU diadakan di hotel, seperti ketika Gernas Ayo Mondok. Gus Mahrus Iskandar kala itu selaku shohibul bait menempatkan acara di hotel dengan pertimbangan tidak mengganggu dan merepotkan santri yang sedang aktif mengaji. Sangat dimaklumi karena Pondok Pesantren As-Siddiqiyah santrinya rata-rata tingkat sekolah menengah. Lalu bagaimana dengan Pondok Lirboyo?

 

Sama sekali tidak akan mengganggu kegiatan ngaji. Dari segi tenaga, Lirboyo memiliki santri yang sudah lulus dan wajib mengabdi. Santri inilah yang biasanya meng-handle acara besar dan sudah tidak terikat dengan madrasah. Selain itu, santri sudah hafal betul bagaimana treatment ketika melayani tamu-tamu kiai.

 

Selain itu, posisi Aula Muktamar terletak terpisah dari asrama dan lokasi ngaji santri. Hiruk pikuk muktamirin tidak akan berpengaruh. Kantong parkir pun juga banyak. Apalagi transportasi umum: dekat stasiun, terminal, dan tentu Bandara Dhoho yang baru diresmikan. Perlu diingat pula, Lirboyo yang menjadi basis Pagar Nusa dan GASMI akan sangat membantu Banser dan aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

 

Walhasil, selain karena keramat, dari aspek historis, politis, genealogis, dan teknis, Lirboyo sangat layak menjadi shohibul bait untuk menggelar Muktamar. Energi positif santri dan tuah barokah sesepuh bertemu dengan semangat ulama dari penjuru Nusantara akan menyukseskan Muktamar NU sekaligus menangkis sengkuni-sengkuni yang mencoba mengganggu.

 

Sekian, wallahu a‘lam.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.