Loading...

Balada Negara Tanpa Orangtua: Jangan Hanya Mengandalkan Sekolahan!

Oleh Ahmad Elnahrowi | Umum | 24 Jan 2026

Cover Artikel

Banyak anak di negara ini yang tidak memiliki orang tua, bukan berarti yatim atau piatu, melainkan orang tua sekadar berperan memberi nafkah dhohir, selepas itu selesai. 

 

Bahkan sempat ramai Indonesia dicap sebagai negara yang fatherless, (kurangnya pengaruh ayah terhadap pendidikan anak).

 

Biasanya, orang tua berpikir tentang bagaimana memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Untuk pendidikan, karakter building beberapa orang tua beranggapan, 'kan sudah diajarkan di sekolah', jadi ketika anaknya sudah sekolah, seolah-olah tiada kewajiban lagi untuk membenahi tumbuh kembang sang buah hati.

 

Tapi nampaknya kebanyakan dipasrahkan total kepada lembaga pendidikan. Padahal lazim diketahui orang tua adalah madrosatul ula, 'sekolah pertama'. Setidaknya menurut Syekh Abu Bakar Syatho' orang tua wajib mengajari tauhid, tata cara beribadah dan tentu adab. 

 

Tapi nampaknya kebanyakan dipasrahkan total kepada lembaga pendidikan. Sedangkan waktu belajar di sekolah itu 8 jam perhari, 16 jam sisanya adalah mejadi tanggungan orang tua.

 

Sedangkan waktu guru di sekolah pun terbatas, apalagi ketika guru di sekolah itu fokus mengajari ilmu-ilmu akademik, sangat sedikit waktu untuk mengajari adab. Diera modern seperti ini, kekurangan ilmu akademik bisa dimaafkan dengan dipelajari via internet apalagi ada AI, banyak tutorial, artikel hinggal PPT tersedia lengkap. 

 

Namun satu yang tidak bisa dipelajari di Internet, yaitu adab.

 

Maka ketika guru di sekolah mengajari segalanya, satu pelajaran sisanya berupa adab adalah menjadi tanggung jawab orang tua di rumah. Lantas apabila terjadi sebuah kemerosotan moral dan degradasi intelektual terhadap anak, tidak bisa serta merta menyalahkan lembaga pendidikan.

 

Mau sekolah se-modern apapun, se-mahal apapun, apabila orang tua tidak bisa menjadi suport sistem, hasilnya tidak akan sempurna, ada saja yang kurang. 

 

Maka kombinasi guru di sekolah dan orang tua di rumah adalah harga mati, tidak bisa ditawar. Bukannya sudah disampaikan Nabi Saw, bahwa 

 حَقُّ الْوَلَدِ عَلَى وَالِدِهِ أَنْ يُحْسِنَ إِسْمَهُ وَيُحْسِنَ مَرْضَعَهُ وَيُحْسِنَ أَدَبَهُ.

"Hak anak yang harus dipenuhi orang tua adalah mendapatkan nama yang bagus, air ASI ibu yang baik, dan pendidikan akhlak yang layak."

 

Minimal kalau tidak mampu mengajari ilmu, orang tua bisa mengontrol keseharian anaknya, bukan malah dimanja dan dibiarkan saja.

 

Lalu bagaimana kalau memang benar-benar tidak punya waktu dan tidak mampu untuk mengurus anak? Solusinya bisa ditaruh ke lembaga pendidikan yang ada asrama, salah satunya di pondok pesantren.

 

Ketika di pondok pesantren pun, orang tua juga tidak bisa seenaknya. Kiai-kiai di pondok Lirboyo itu sering menekankan, tiga komponen utama dalam suksesnya belajar, yaitu guru mengajari, orang tua membiayai dan menirakati, serta anak yang belajar sungguh-sungguh. Ketiganya tidak boleh kurang satupun, saling memainkan perannya semaksimal mungkin.

 

Sekian, wallahu a'lam bishawab.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.