Sedari awal, saya pribadi memang 'kaget' dengan seminar atau kelas online tentang pernikahan. Bagaimana ndak kaget, wong rerata pematerinya masih muda-muda, ya memang sih punya nama dan ilmu, tapi itu semua kan masih teori, belum tentu mengamalkan teori sepenuhnya. Dalam arti ujian rumah tangganya itu belum seberapa dibanding mbah-mbah yang sepuh misal.
Maka, saya jadi ndak kaget suatu ketika teman saya bilang, ada salah satu pemateri pernikahan yang ternyata dia kemakan omongannya sendiri, dalam arti apa yang diperbuat tak sesuai dengan yang diucapkan dalam kelas.
Ada juga yang nyeletuk, "Saya tahu betul kehidupan rumah tangganya, benar-benar jauh dari materi yang disampaikan".
Ya gimana lagi wong usia rumah tangga masih muda. Ya potensi 'melenceng' dari materinya sangat besar.
Namun, kita tidak bisa menjudge pematerinya, nanti kena logical fallacy kategori argumentatum ad hominen dong, hehe. Tapi ya fokus saja pada materinya. Mungkin sang pemateri punya teori lain untuk membenarkan lelakunya, atau emang khilaf, heheu.
Lantas bagaimana belajar parenting dan pernikahan paling ideal?
Yaps, seminar yang teoritis begitu tetap dijalankan, tapi jangan lupa pula belajar secara empiris dari kisah nyata, dari pelakunya secara langsung, dari orang tua yang sudah menjalani pernikahan bertahun-tahun yang sudah merasakan garam-madu kehidupan.
Misal, saya kemarin baru saja ketemu seorang bapak-bapak usia 40-an, di ruang tunggu Orthopedi RSUD Sragen, dia sedang ngantar istrinya. Ceritanya duh, beneran bikin ngelus dada, bapak ini sudah setahunan mbopong/ nggendong istrinya tercinta, karena kakinya gabisa jalan kena penyakit gula.
Disaat bersamaan, bapak ini masih ngragati (mbiayai) 2 anaknya yang sedang nyantri, satu di Al-Anwar Sarang satunya di An-Naim Ajisaka Sragen. Bayangkan, entah beliau ini tau teorinya apa enggak, yang jelas sudah secara empiris mengamalkan kasih sayang sebagai seorang suami kepada istri dan tanggung jawab kepada keluarganya.
Dilain sisi, saya juga mengetahui seorang nenek usia 70 tahunan, tiap hari ngurusi suaminya yang seumuran Presiden Prabowo, suaminya sedang lumpuh, mulai dari menyuap makan, BAB, sampai memandikan, tiap hari dilakoni sang istri.
Ketika saya tanya kenapa sesetia ini? Jawabannya, karena si suaminya dulu ketika masih sehat tanggung jawab luar biasa dan tegas. Terbukti meskipun dari keluarga biasa, semua anaknya lulusan pesantren, 2 tamat API Garjo, 1 tamat Lirboyo ketiganya ini sudah jadi kiai Desa di wilayahnya dan satu anak putrinya jadi ketua cabang salah satu Banom NU paling powerfull. Jalas kakek-nenek ini perlu kita pelajari kiat-kiatnya kok bisa sesetia itu dan bagaimana parenting terhadap anak-anaknya kok jadi orang semua.
Masih ada lagi, saya tahu betul, di daerah saya itu suaminya terkena kecelakaan kerja yang membuat 2 tangannya tidak berfungsi, ada lagi yang suaminya tulang ekor bermasalah sampai hanya bisa berbaring. Kedua istri diatas ini setia dan merawat 5 tahun lebih suaminya, jelas pasti 2 wanita ini menyimpan ilmu dan energi kesetiaan yang perlu kita pelajari. Tentu diluaran sana banyak kasus lagi tentang parenting, kesetiaan, tanggung jawab dll, yang perlu kita tiru.
Walhasil, seminar-seminar tentang pernikahan, parenting atau apapun itu namanya itu penting untuk diikuti, namun perlu diingat itu sebatas teoritis belum tentu bisa mengamalkan. Secara level taksonomi keilmuan, pemateri yang tergolong masih muda ini bisa dikatakan masih di nomor empat yaitu menganalisa.
Jangan lupakan belajar secara empiris kepada orang-orang sepuh dan mereka yang diuji rumah tangganya seperti saya contohkan diatas, jelas mbah-mbah ini secara taksonomi keilmuannya sudah paling puncak yaitu menciptakan. Namun nasibnya mbah-mbah ini mirip dengan sebuah ayat
وانّهٗ لَذُوْ عِلْمٍ لِّمَا عَلَّمْنٰهُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
"Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai pengetahuan karena Kami telah mengajarkan kepadanya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Sekian, Wallahu a'lam bishawab.