Loading...

Kurangi Cerita Karomah, Perbanyak Cerita Ilmiah Kepada Murid!

Oleh Ahmad Elnahrowi | Meditasi | 18 Jan 2026

Cover Artikel

Tulisan saya ini untuk menanggapi timeline medsos akhir-akhir ini yang sering lewat kisah magic, tidak masuk di akal. Cerita karomah para wali yang disampaikan melalui panggung ceramah. 

 

Kemudian disusul pengakuan orang-orang ajaib yang menasbihkan dirinya ratu adil, bisa berbicara dengan hewan, apalagi ada gua yang tembus sampai Makkah. Hemm.

 

Sejak dulu, saya dan beberapa kawan diruang akademik mengajar, relatif sedikit menceritakan tentang karomah ataupun keajaiban tokoh tertentu, karena cerita seperti itu tidak membangkitkan nalar ilmiah murid dan saya khawatir orientasi mereka bukan hal-hal ilmiah namun suka pada karomah yang itu datangnya murni dari Allah SWT. tidak bisa dipelajari manusia.

 

Kami percaya ketika pasukan Belanda menyerbu Pondok Lirboyo dan K.H. Abdul Karim lebih milih iktikaf di masjid tidak mau diajak mengungsi dan beliau selamat dari serbuan Belanda.

 

Namun, kami lebih memilih sering menceritakan perjuangan K.H. Abdul Karim ketika mondok hanya punya satu baju, dan ketika baju itu dijemur sambil menunggu kering, beliau berendam di kali sambil ngelalar Alfiyah.

 

Kami meyakini bahwa K.H. Marzuki Dahlan itu pernah dihujani peluru tembakan jenis AK, tapi tidak ada yang kena sama sekali, bahkan ditembak dari jarak dekatpun. Moncong senapan serbu ini pelurunya ndak mau keluar.

 

Namun, kami lebih memilih dominan menceritakan kepada santri tentang ketelatenan ngaji, kesederhanaan, kewira'ian dan keistiqomahan Yai Marzuki dalam menjaga sholat jama'ah.

 

Kami tentu percaya betul, ketika mobil K.H. Mahrus Ali terjun ke sungai Bengawan Solo yang sedang meluap besar kala itu, para saksi mata tidak yakin penumpang mobil masih hidup. Setelah sekian jam tenggelam bisa-bisanya beliau masih utuh selamat, bahkan sambil rokok-an. Iya roko'an di dalam air! 

 

Namun kami lebih sering menceritakan perjuangan Kiai Mahrus Ali menghadapi penjajah, serbuan ke pangkalan militer Jepang. Keterlibatannya dalam Resolusi Jihad dan menumpas PKI.

 

Saya sadar betul, saat ini cerita ilmiah itu lebih dan sangat dibutuhkan masyarakat, karena efek mental yang diakibatkan pada audiens dan masyarakat dengan sering dicekoki cerita karomah yang sedikit ilmiah begitu. Masyarakat akan terbiasa berharap pada keajaiban alih-alih bekerja dan belajar keras.

 

Apalagi terhadap murid, bukannya saya tidak percaya karomah, namun ketika karomah sering diceritakan kepada murid saya khawatir orientasi mereka akan lebih ke arah banyak mengamalkan amalan tertentu biar punya keajaiban. Padahal karomah itu murni dari Allah SWT, tidak bisa diusahakan manusia. 

 

Tentu untuk menanggulangi hal tersebut, setelah menerangkan materi atau sekadar intermezzo, saya lebih sering cerita sisi ilmiah kiai, perjuangannya membela begara, kesalehan sosialnya dan cerita yang sekiranya bisa diusahakan serta ditiru oleh santri.

 

Jadi teman-teman yang sekarang sedang ngorek Kitab Romadhon, mengajar di sekolah atau bahkan punya santr. Mulai kurangilah cerita-cerita berbau keajaiban kayak gitu, berilah asupan-asupan ilmiah yang bisa ditiru. Supaya semangat belajar anak didik semakin membara, semangat untuk memeroleh ilmu, semangat untuk bermanfaat pada masyarakat, dan semangat mencerdaskan kehidupan berbangsa.

 

Terakhir catatan terpentingnya adalah, 3 Tokoh Lirboyo yang jelas-jelas punya karomah di atas, lebih semangat memerintahkan santrinya dalam keilmuan daripada kejadugan atau amalan-amalan.

 

K.H. Abdul Karim sering berpesan untuk mempeng sinau bahkan ketika di rumah 'wajib' mengajar.

 

K.H. Marzuki Dahlan berpesan, "Jangan belajar yang neko-neko seperti menekuni kejadugan".

 

K.H. Mahrus Ali ketika melihat santri mau belajar amalan-amalan, beliau ngendikan "Aku tidak rela santri-santriku jadi dukun. Aku pengin Santriku jadi pejuang."

 

Sekian, Wallahu 'alam semoga bermanfaat.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.