Setiap lebaran, saya teringat rumah seorang kakek yang selalu menerima dan mempersilahkan makan seorang pemuda ODGJ. Tanpa tatapan sinis, mengajak pemuda ini bahagia dengan menyantap makanan bersama. Disaat yang lain banyak risih terhadap pemuda doif ini, sang kakek menerimanya dengan penuh kasih. Memperlakukanya seperti keluarga sendiri. Tak ayal pemuda ini betah lama-lama di rumah kakek.
Perlakuan kakek ini mengingatkan saya pada kisah Nabi Muhammad Saw yang melayani anak yatim terpinggirkan nan kelaparan. Suatu pagi Rasulullah Saw berangkat untuk melaksnakan shalat ied. Di tengah perjalanan, beliau melihat anak-anak kecil bermain riang. Tertawa, bercanda, penuh kebahagiaan khas hari raya. Namun, di antara keceriaan itu… ada satu anak yang berbeda. Dia duduk sendirian. Pakaiannya lusuh, wajahnya keruh, bahkan meneteskan air mata.
Rasulullah Saw iba, lalu bertanya, "Wahai anak kecil, apa yang membuatmu menangis. Kenapa tidak ikut bermain bersama teman-temanmu?" Si bocah yang tidak tahu kalau di depannya adalah Rasulullah Saw itu menjawab, "Wahai laki-laki di hadapanku, ayahku telah meninggal saat mengikuti suatu peperangan bersama Rasulullah. Setelah itu, ibuku menikah lagi dan memakan semua harta-hartaku. Lalu bapak tiriku mengusirku dari rumah. Sejak itu, aku pun tidak lagi memiliki makanan, minuman, pakaian, dan rumah. Ketika telah sampai hari ini (Idul Fitri), aku melihat begitu banyak anak berbahagia dengan ayah-ayah mereka. Aku pun sedih dan menangis."
Rasulullah Saw pun terenyuh lalu menawarkan ke bocah itu, "Wahai anak kecil, bersediakah jika aku menjadi bapakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali menjadi pamanmu, Hasan dan Husein menjadi kedua saudara laki-lakimu, dan Fatimah menjadi saudara perempuanmu?" tawar Rasulullah Saw mendengar perkataan itu, si bocah sadar bahwa lelaki di hadapannya adalah Rasulullah Saw, jelas dia bahagia dan tidak bisa menolak tawaran itu.
Lalu dihari fitri itu, si bocah yatim ini akhirnya berlebaran dengan keluarga baru. Nabi Saw pun membawanya pulang ke rumah. Memberinya pakaian yang indah, memberi makan sampai kenyang, menghiasinya dan memberinya minyak wangi yang harum. Sekarang, anak yatim itu bisa bermain dengan penuh tawa bahagia bersama teman-teman seusianya.
Kebahagiaan anak yatim itu membuat teman-temannya penasaran, "Bukannya engkau yang dulu menangis, mengapa sekarang terlihat begitu bahagia?" tanya mereka penasaran. Anak yatim itu menjawab, "Memang, dulu aku kelaparan, tapi sekarang aku kenyang. Dulu pakaianku buruk, kini sudah tidak lagi. Dulu aku seorang yatim, tapi kini Rasulullah adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudara laki-lakiku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?" Teman-temannya iri dan berkara, “Andai saja bapak kami syahid saat peperangan, pasti sudah seperti engkau.”
Yaps, lebaran memang menjadi momentum untuk bahagia penuh sukacita, bahagia yang tidak hanya personal, tapi juga komunal. Maka kita perlu lagi menengok kanan kiri, siapa yang sekiranya belum bisa mengakses bahagia itu, kita bahagiakan, tanpa memandang status sosial, ormas, bahkan lain agama pun kita ajak bahagia, demi kemanusiaan.
Seperti yang diajarkan Rasulullah Saw tadi yang membahagiakan anak yatim. Kakek-kakek yang mengajak bahagia pemuda tersisihkan di atas, atau kalau di serial Naruto kita bisa melihat Iruka yang menjadi 'orangtua' Naruto.
Boleh jadi saat kita sibuk memilih baju baru, ada tetangga kita yang pakaian itu-itu saja. Kita yang membuang-buang makanan, boleh jadi ada tetangga kita yang sedang kelaparan.
Maka dihari raya ini, kita memang tidak bisa membahagiakan semua, setidaknya memastikan tidak ada yang kesusahan disekitar kita. Bahkan sebelum diperintah untuk selebrasi atas kenikmatan (وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ) kita disuruh dulu untuk berbuat baik pada yang yatim dan lemah.
فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ
Sekian wallohu'alam.