Loading...

Berhubung Diatas Sedang Manas, Mari Menengok Akar Rumput NU Yang Penuh Ikhlas

Oleh Ahmad Elnahrowi | Relaksasi | 16 Jan 2026

Cover Artikel

Moment foto di atas saya jepret dari jendela rumah, kala libur pulang kampung di 2024 silam, potret ketika putu, embah, bapak, ibu mau berangkat pengajian 'lapanan' Ahad Kliwon MWC NU Sukodono kab. Sragen. Beliau-beliau ini naik mobil pickup, biasanya bayar 1000-2000 rupian untuk sang sopir, yang bocil ndak bayar. Niatnya ikhlas ngaji, gaada kepentingan apapun untuk NU, rela ninggalin kesibukannya, beneran pingin ketemu dan ngangsu ngelmu mbah-mbah Yai.

 

Moment seperti ini sudah ada sejak saya kecil diawal milenium 2000an dulu, saya tahu betul karena kumpulnya di halaman rumah orang tua yang posisinya strategis di perempatan kampung. Dulu belum ada WA, jam 8 pengumuman dikumandangkan lewat toa Mushola, jam 10 sudah pada kumpul. Antara jam 1-2 siang baru pulang. 

 

Tuan rumah pengajiannya bergilir, tiap lapanan dari ranting A ke ranting B. Hampir tidak ada donatur tunggal, dananya kolektif, biasanya emak-emak Fatayat-Muslimat yang nanggung konsumsi, Ansor dan pengurus NU lainnya ngurus sarpras.

 

Makanya kalau ada yang memiliki kepentingan pribadi di tubuh NU tingkat MWC sekalipun, biasanya dititeni jama'ah dan akan terjungkal sendirinya. Karena berjalannya organisasi ini benar-benar dihuni orang-orang ikhlas. Tau sendiri kan orang ikhlas kalau di khianati bagaimana Allah SWT membalas. Ngeri.

 

Sistem pengajian seperti di atas saya kira tidak hanya di Sragen, tapi dibanyak tempat, dimana pengajian spiritual itu di bangunan secara komunal dan penuh solidaritas. Bukan individual yang mementingkan ego apalagi popularitas. 

 

Iya, selama ada ontran-ontran di atas sana, saya tidak terlalu terkejut atau khawatir, lha bagaimana membaca sejarahnya saja NU sudah akrab dengan gegeran. Dulu ada Kubu Cipete-nya Yai Idham Kholid dan Kubu Situbondo di pimpin Yai As'ad Samsul Arifin. Era Gus Dur apalagi, orde baru mencoba nyusup ke struktural NU, Yai Hasyim Muzadi pernah di minta turun GP-Ansor. Zaman Yai Said Aqil malah ada NU garis lurus, dan sekarang you know lah.

 

Konflik zaman sebelumnya lebih ngeri dari sekarang, bayangkan kalau dulu sudah ada medsos, wah betapa gegernya 3 tahun timline dan fyp medsos dipenuhi konflik Cipete Vs Situbondo. Tapi dari semua itu, konflik bisa dilalui, buktinya NU semakin berkembang dan semakin besar. Karena yang berkonflik sama-sama berlandas cinta dan mau ngopeni NU (terlepas dari kepentingannya, xixixi).

 

Walhasil, selama konflik itu ada di struktural, apalagi PBNU di atas sana, saya kira akan cepat mereda. Dan tidak begitu mengancam keutuhan NU. Bisa dianggap ancaman berbahaya apabila sudah tidak ada lagi yang mau berangkat pengajian seperti diatas. Ibu-ibu Fatayat nolak masak nasi bungkus lagi, pemuda-pemudi enggan berangkat ngaji, bapak-bapak tidak mau diajak masang tarop pengajian, pesantren sepi, tiada saudagar desa yang bersedia mewakafkan tanahnya itu yang benar-benar bahaya dan harus di sikapi serius. Karena disitulah akar, batang dan cabangya NU.

 

Mengenai di atas sana tak lebih dari buah, yang harus siap kapanpun di maling codot, dilempari batu, bila beruntung ya matang pohon dan bisa dipanen, umpama buah itu habis, akar siap memproduksinya lagi dengan buah yang lebih segar.

 

Bagaimanapun itu, semoga yang saat ini berkonflik, mau nengok ke bawah, merenungi solidaritas jama'ah yang ikhlas dan tak kenal lelah memberi energi demi fotosintesis pohon besar bernama NU ini tetap terproduksi serta memberi oksigen kehidupan bagi bangsa dan negara.

 

Sekian, wallahu a'lam bishawab.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.