Sekali lagi, panen engagement dengan nge-post keburukan pesantren sekarang menjadi tren. Memberi saran dengan halus,
mengritik secara tulus, sampai menghujat dengan akal bulus. Semua dilakukan, entah mereka yang pakar maupun yang bencinya emang sudah mengakar, istilahnya "Bad News in Pesantren Is Good News For Them Or Them."
Dibalik kritik ke pesantren yang bak tsunami itu, saya tergelitik dengan apa yang dilakukan oleh tokoh pesantren yang akan saya sebutkan ini. Barangkali bisa menjadi tauladan bagi kita, bagaimana menghadapi problem, dimanapun tempatnya.
Saya mulai dari Buya Husein, ditempat nyantrinya dulu, santri putri nyaris tidak mendapat tempat untuk berekspresi, selalu berada di posisi domestik, dapur dan sumur.
Maka ketika saya melihat Buya Husein yang saat ini begitu concern terhadap feminisme, saya menduga, apakah ini wujud protesnya Buya Husein terhadap pesantrennya yang dulu?
Kemudian, saya melihat pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, pesantren itu tampak modern, fasilitasnya mewah, memadai benar-benar representatif, jauh dari kesan pesantren umumnya yang berjubel, overload dan serba sederhana.
Ternyata pengasuhnya adalah K.H. Imam Jazuli Lc, Ma. dan beliau adalah lulusan pesantren salaf nyell. Disini saya berasumsi, apakah terobosan beliau yang dikenal without-the box-thinker ini adalah wujud semasa mondoknya dulu yang memang fasilitasnya amat terbatas?
Lalu, saya mengenal Mas Heri, beliau menginisiasi pendirian pesantren Aksara Pinggir Bekasi, rancangan pesantren ini sangat rapi, presisi dan mejaga banget kebersihan, pokoknya haram hukumnya ada puntung rokok berserakan atau ada debu nempel di jendela.
Saya berpikir, kebersihan yang begitu dijaga ini nampaknya sebagai wujud perubahan dan penentangan atas santri-santri tempat ngaji mas Hery dulu yang tidak menjaga kebersihan.
Ada juga seorang mas-mas ketika ngajar ngaji, tidak hanya memberi materi tentang baca-tulis al-Qur'an. Mas-mas ini juga 'mewajibkan' murid ngajinya untuk membaca buku di perpustakaan, buku apapun mulai dari Ronggeng Dukuh Paruk, Homo Deus, Dunia Sophie, maupun Sharelock Holmes, atau judul lain semua suruh dibaca.
Usut punya usut, mas-mas ini juga tidak ingin anak didiknya 'buta' literasi dan malas membaca. Seperti yang dia temukan pada teman-temannya dulu.
Nah, cara protes ke pesantren 3 tokoh +1 pemuda diatas ini patut kita contoh, disamping kritik itu diperbolehkan, bukan berarti hanya menjadi penonton dan bersorak-sorai ketika gawangnya kebobolan.
Tokoh diatas terjun ke lapangan, turut membenahi langsung dan merubah permainan ke arah yang lebih baik dan menang.
Pada intinya, setiap sistem jelas tidak terlepas dari problem, namun repon terhadap problem itu ada di tangan kita, membikin lebih baik, mengritik atau mengusik itu pilihan kita.
Yang jelas 'Ibda' binafsik' lebih membuat orang tertarik dari pada hanya berisik. Menjadi 'Uswatun khasanah' jelas lebih membuat orang tergugah dari pada sekadar mauidzoh hasanah.
Lantas sudahkah ada langkah yang kalian lakukan terhadapan kebaikan pesantren?
(Bertanya dengan nada lemah lembut bin penasaran)😀
Sekian, wallahu a'lam.