Saya pernah ditanya 'penting adab dulu nanti ilmumnya mengikuti, setuju ndak mas?' saya jelas tidak setuju.
Ilmu dan adab, bagi saya keduanya tidak boleh ketinggalan, barang sejengkalpun, harus beriringan. Tinggal penggunaannya, menyesuaikan dosis yang diperlukan.
Bagi kita sudah masyhur dengan kaidah الادب فوق العلم (adab diatas ilmu)
Namun kaidah ini berpotensi disalahgunakan oleh pelajar pemalas, pada akhirnya mereka males untuk mendalami ilmu, dan berpandangan apabila sudah yakin beradab dan berakhlakul karimah, tak perlu lagi meraih ilmu tinggi-tinggi.
Selain makolah diatas, banyak sekali kalam yang menyatakan adab dahulu baru kemudian ilmu.
Tapi diera sekarang yang pemudanya banyak yang 'miskin' literasi, berpotensi menyalahgunakan kalam itu yang kemudian malas mendalami ilmu, padahal mau tidak mau, kita akan sering dihadapkan posisi mendahulukan ilmu daripada adab.
Katakanlah ketika seorang santri pulang ke rumah, adabnya bagus, tapi disisi lain ketika ditanya masyarakat tentang alokasi zakat, dia ndak tahu, dimoment ini 'adabnya' tidak bermanfaat.
Atau seorang pelajar kebetulan keluarganya ribut sengketa waris, jelas daripada akhlak, ilmunya lebih dibutuhkan.
Atau katakanlah Yaman yang terkenal negara beradab, adakah hasil ilmu tekhnologi yang kalian pegang saat ini hasil dari sana? dan berapa banyak, ilmu teknologi yang kalian nikmati itu berasal dari negara yang terkesan kurang beradab?
Mengenai ilmu didahulukan daripada adab, banyak ulama yang sudah membahasnya, salah satunya Ibnu Khaldun, pakar Psikologi Islam, dalam Al-Muqodimahnya:
Ketika ada pegawai yang berilmu tapi minus etika dan surplus etika tapi defisit ilmu, beliau lebih mendahulukan yang berilmu, perihal nanti etikanya buruk, sudah ada lembaga tersendiri yang menangani keburukan etikanya.
Artinya, pandangan Ibnu Khaldun ini beranggap kalau ada orang yang berilmu tapi akhlaknya minus, setidaknya ada pengadilan untuk menanganinya.
Namun ketika beradab tapi tidak berilmu kemudian kinerjanya buruk, ini akan sulit dipulihkan.
Contohnya kita bisa lihat kasus terbaru ini, pejabat tidak korup, tidak berilmu tinggi, akibat kekurangan ilmunya, kena hacker, kerugiannya sama saja dengan pejabat korup tapi ilmunya surplus dan kinerjanya bagus.
Bila kita lihat lagi, dalam penulisan kitab-kitab kuning, ulama seringkali membahas tentang ilmu dibab-bab terdepan, penulisan tentang etika biasanya agak belakangan.
Contohnya Syekh Imam Mawardi dalam Adabudunnia Waddinnya, dalam bab awal beliau mengupas tuntas tentang keutamaan ilmu. Begitupula Ihya'-nya Imam Ghazali, tentang ilmu ditulis didepan dll.
Ataupun ketika Imam Malik berpesan kepada Imam Syafi'i bahwa,
ﻳﺎ ﻣﺤﻤﺪ ، ﺇﺟﻌﻞ ﻋﻠﻤﻚ ﻣﻠﺤﺎ ﻭﺃﺩﺑﻚ ﺩﻗﻴﻘﺎ
"Jadikanlah ilmumu itu garam dan adabmu itu tepung". Alias adab lebih ditonjolkan daripada ilmu.
Pesan itu jelas disampaikan kepada Imam Syafi'i yang notabene secara kapasitas ilmunya telah banyak. Nah apabila sejak dini ilmunya belum seberapa tapi sudah overdosis dicekokin adab baru ilmu, kemungkinan besar anak tadi akan kesulitan menambah kapasitas ilmunya. Karena terlalu nyaman dengan pembahasan adab.
Penting bagi kita adalah tahu kapan waktunya ilmu mendominasi dan kapan waktunya adab lebih mendominasi.
Jangan sampai hanya sepakat dalam satu pendapat. Perlu juga pendapat-pendapat yang lain, supaya tidak terjerumus dalam lembah fanatik yang bisa membikin lebih problematik.
Sekian, wallahu a'lam.