Kalau kita mengamati, ditengah kesibukannya mengurus santri dan berceramah sana-sini. Kiai-kiai besar tetap menyempatkan ngaji kitab dengan sistem bandongan atau tetap membacakan kitab tertentu. Tidak hanya sekadar ceramah saja.
Misalnya Gus Baha' yang istiqomah dengan Tafsir Jalalain-nya, Gus Reza dengan Riyadusholihin-nya setiap Ahad Legi, Gus Kautsar ngaji Irsyadul Ibad di teras gubuknya, dan masih banyak lagi. Mengapa bisa demikian?
Disamping ngaji kitab adalah ciri khas dari sistem pendidikan pesantren, dibalik itu menyimpan rahasia yang jarang diketahui. Yaps, dengan ngaji berpatokan pada kitab, maka kiai atau mubaligh yang biasanya bisa leluasa mau membahas hal apapun didepan jama'ah, dengan ngaji kitab, maka pembahasan tidak bisa keluar jauh-jauh dari teks dan konteks kitab tersebut.
Semisal Gus Kautsar sedang bahas bab Wudhu, maka akan tidak bisa serampangan tiba-tiba menyampaikan tentang Jihad, atau Gus Baha' ketika membacakan kandungan ayat 30 Surat Al-Baqarah misal, maka akan aneh bila tiba-tiba loncat mbahas tentang pernikahan, begitupula Gus Reza yang ngaji kitab Riyadhusolihin sampai bab Khouf, maka pembahasannya tidak jauh-jauh berkaitan dengan rasa takut kepada Allah SWT.
Kemudian, dengan ngaji membaca kitab, kiai tadi tidak hanya 'menjustifikasi' jama'ah, karena beliau sendiri juga terkena 'justifikasi' dari sang pengarang kitab, karena pada dasarnya kiai atau pengqori' fungsinya menyampaikan pemikiran mushonif kitab, bukan menyampaikan pemikiran atau malah nafsu pribadinya.
Seumpama kiai ditengah ngaji kitab tiba-tiba ketemu hadits,
"همة السفهاء الرواية، وهمة العلماء الرعاية" (Prioritas orang bodoh bercerita, prioritas ulama menjaga ilmu) jelas beliau akan 'intropeksi' diri dahulu, akan kepikiran 'o iya ya', tidak semena-mena langsung justifikasi ke jama'ah.
Alasan itulah yang menyebabkan kiai lebih tenang, adem dan tidak memprovokasi, karena beliau sendiri terkena taklif dari sang pengarang kitab, tidak hanya ber-orasi seenaknya sendiri. Artinya dengan ngaji kitab, kiai tidak hanya pandai ber-oral namun hatinya juga ber-moral. Dengan ngaji kitab pula kedudukan kiai menjadi sama persis dengan jama'ah lain, sama-sama manusia yang membutuhkan nasihat.
Tentu hal demikian tidak ditemukan pada ngaji yang hanya ceramah, karena si penceramah jelas terlalu 'sense of dominant', mendominasi majelis dan tidak terkontrol apapun yang di bicarakan. Beda dengan baca kitab, dimana pengarang kitab akan mengontrol penceramah, dan jelas, ngaji kitab lebih berbobot daripada sekadar ceramah.
Jadi bagi teman-teman setidaknya bisa memiliki gambaran, kalau mau mencari majelis yang isinya daging full ilmu ya ada di kajian-kajian kitab, jangan pada pengajian 'insindental' yang satu orang ceramah, jangan pula di majelis sholawat, karena unsur hiburannya lebih dominan, bahkan tidak sedikit ditemukan 'unsur-unsur' maksiatnya, kalau sekadar 'tarkul ma'asyi' sih ya monggo-monggo saja, silahkan...
Nah, selain 3 gus diatas, teman-teman punya rekomendasi ndak nih ngaji kitab yang dibacakan ulama-ulama lain??? Spill dong siapa tau ada yang tertarik ikut, yekan...
Sekian, Wallahu a'lam bishawab.