Loading...

Setiap Pesantren Bermasalah Dari NU, Tiap Silat Onar Dari PSHT, Tiap Kenyelenehan di Cap Jawa

Oleh Ahmad Elnahrowi | Kecemasan | 10 Jan 2026

Cover Artikel

Benarkah demikian?

Mari kita ketahui teori probabilitas, biar bisa menilai sesuatu dengan cerdas.

 

Mayoritas masyarakat kita masih suka dengan cara berpikir over generalitation, umpama kasus sedikit atau oknum yang melakukan, langsung gebyah uyah dari institutsi yang bersangkutan.

Nah supaya kita tidak terjebak dalam logical fallacy berupa hasty generalitation macam ini, mari kita gunakan pendekatan teori probabilitas.

 

Kebanyakan pendapat masyarakat, umpama tiap ada pondok pesantren bermasalah, langsung dijudge NU, tiap ada keonaran di pencak silat kecondongan masyarakat menilai pelakunya oknum PSHT, sampai ada penilaian tiap masalah dijudge karena suku Jawa. 

 

Nah kita ketahui bahwa pesantren di Indonesia ini kebanyakan berafiliasi dengan Nahdatul Ulama, perguruan silat paling banyak anggotanya di Indonesia ya PSHT.

Tentu suku Jawa paling banyak di Indonesia, karena jumlahnya paling banyak maka probabilitas entitas diatas untuk berbuat salah pasti lebih besar.

 

Taruhlah begini, ada 100 Pesantren NU, kebetulan 9 diantaranya bermasalah, kemudian pesantren yang non-NU cuma 10, dan 5 diantaranya bermasalah.

Apabila ditelan kuantitas mentah-mentah, jelas pesantren NU paling banyak yang bermasalah.

Namun kemungkinan pesantren NU bermasalah itu cuma 9 %.

Disisi lain, pesantren non-NU yang bermasalah hanya 5, kelihatan sedikit tapi disisi lain presentasenya besar, yaitu 50 %.

 

Namun karena masyarakat banyak yang sumbu pendek, langsung pada menghujat pesantren NU habis-habisan, apalagi bagi media yang sangat gemar "Bad News is Good News", begitu ada keburukan di NU langsung diangkat, diwartakan secara luas. Lantas melupakan kebaikan dan peran pesantren NU yang begitu besar yang tidak sebanding dengan masalahnya. Ketambah tingkat literasi masyarakat yang rendah, boom stigma negatif kemana-mana, fitnah merajalela. Belum lagi kalau buzzer sudah bicara, wiuh tambah ra karuan.

 

Korban hasty generalitation ini tidak hanya NU, tapi seluruh entitas yang berkuantitas paling besar di negeri ini, macam suku Jawa dan PSHT yang kerap dicap negatif dan kena bahan olok-olok. Padahal oknum suku lain juga banyak yang problematik, oknum perguruan silat lain juga ada yang bermasalah.

 

Termasuk yang kena korban diantaranya adalah Wahabi, pokoknya ormas intoleran, yang suka ngafir-ngafirkan pasti Wahabi, padahal beberapa Wahabi juga ada yang 'tobat' menjadi moderat, aparat baju cokelat juga kena getah hasty generalitation ini, dan masih banyak lainnya.

 

Nasib pesantren ini mirip seperti artis yang cerai, pesantren emang dicap suci, ketika ada satu noda saja ya langsung dicerca. Melupakan institusi pendidikan lain yang tak kalah problematik, melupakan sisi positif pesantren pula. Pasangan artis juga dipandang ideal, begitu cerai langsung dicap 'artis memang mudah cerai', sampai lupa dari profesi lain banyak juga yang cerai, melimpah pula keluarga artis yang harmonis. 

 

Nah tulisan ini hadir untuk memberi pertimbangan pemikiran bagi pihak eksternal dan masyarakat umum, bahwa institusi yang dibangun dengan niat baik dan kemudian ada masalah, kita mengkritisi memang boleh, tapi bukan berarti semua kena salah. Umpama beras anda ada kutu kan ndak berarti beras sekarung dibuang, umpama di gudang ada tikus, kan juga ndak berarti gudangnya dibakar hangus.

 

Bagi pihak internal dari entitas di atas, saya kira sudah melakukan pendidikan, pencegahan dan penanganan masalah terhadap oknum-oknumnya. Pasti para stakeholder tidak tinggal diam. Karena men-generalisasi seperti ini bahaya, efeknya luas.

 

Contohnya pada oknum muslim yang melakukan teror, kemudian satu dunia ngecap Islam sebagai teroris dan lahirnlah Islamophobia.

 

Ada dua entitas yang jelas dilarang di negeri ini, baik secara individu maupun kelompok, yaitu Zionis dan PKI, oh iya adalagi FPI dan HTI. Selain empat institusi ini, berarti bila ada masalah bisa dikatakan 'oknum' dan bisa digeneralisir.

 

Gunanya memahami probabilitas ini supaya kita tidak fokus pada siapa yang bersalah, tapi apa kesalahannya, fokus pada solusi bukan malah mencaci, sehingga bisa berpikir jernih dalam merespon masalahnya, tentu mengurangi jiwa over fanatik yang bisa menimbulkan pr

oblematik. 

 

Sekian Wallohu a'lam.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Artikel Terkait
  • Belum ada artikel terkait.
Tentang Penulis

Ahmad Elnahrowi