Banyak yang menyayangkan bentrok di Pemalang antara PWI-LS dan FPI, jelas merusak nama baik Islam, untuk diketahui pendudukung PWI mayoritas anti Habib kemudian diplesetkan jadi Mukimad. Pendukung FPI mayoritas pro-Habib dan dilaqobi Mukibbin.
Mereka saling unjuk diri paling benar, lantas bagaimana kita sebagai pemuda yang 'mapan intelektual dan emosional' menyikapi hal tersebut?
Simak ulasan saya berikut....
Kita mulai dari PWI, diketahui bahwa kehadiran PWI merupakan antitesis dari FPI, kelompok ini merupakan reaksi atas aksi FPI yang kerap provokatif dan agresif itu.
Anggota PWI bahkan masih ada dalam struktural NU dan banyak dari Banser. PWI sangat anti Habib, dibeberapa daerah kerap menguak pemalsuan makam dan menolak strata sosial yang meletakkan Habib di posisi lebih tinggi dari pribumi.
PWI secara Fikrah (ideologi), Amaliyah (amalan) dan Harokah (pergerakan organisasi) secara garis besar tetap Aswaja dan NU.
Namun kesalahannya terletak pada anggapan gebyah uyah dan overgeneralisir mutlak menolak Habib, ceramahnya juga kerap rasis menolak mentah-mentah Habib keuturunan Yaman, padahal kita ketahui tetap ada Habib yang baik.
Kemudian FPI, anggotanya merupakan pro-Habib, menjunjung tinggi bahwa Habib merupakan keturunan Rosulullah Saw yang harus dimuliakan.
Petingginya (disebut Imam Besar, Waw) adalah HRS, kerap berseberangan dengan pemerintah. Ceramahnya mengobarkan Nahi Munkar, dibeberapa kesempatan merendahkan kiai pribumi (ini yang kemudian dibalas sama PWI).
Diantara aspek Fikrah, Harokah dan Amaliyah, FPI bermasalah pada hal Harokah organisasi, kerap overlapping melalui tindakkan sweeping-nya yang mana itu melanggar ketentuan hukum yang harusnya jadi wewenang negara.
Bahkan Gus Dur pernah melabeli bahwa HRS adalah teroris lokal, dan kemudian hari terbukti 35 anggota FPI terlibat tindak pidana terorisme 29 orang di antaranya telah dijatuhi pidana. Pada akhirnya FPI dibubarkan pada 2020.
Kejadian di Pemalang yang lalu, saya khawatir ketika pada mengecam PWI jangan sampai kemudian mengamini apalagi bergabung dengan FPI yang secara de facto masih muncul lagi itu.
Demikian pula, yang anti FPI para pemuda ini jangan sampai pada join dengan PWI-LS. Harus menyikapi se-proporsional mungkin.
Lantas kita harus gimana? Bagi yang belum bergabung dalam kedua ormas itu?
Hemat saya, barangkali kita bisa menjalani apa yang dipesankan Nabi Muhamad Saw. bahwa ketika terjadi perbedaan diantara umat, maka
فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بالسواد الأعظم
"jika kalian melihat ada perbedaan, maka kalian harus tetap pada al-sawad al-a’dham (golongan terbesar)."
Tentu golongan terbesar saat ini adalah Nahdlatul Ulama, terbesar tidak hanya dari segi kuantitas, namun juga kualitasnya.
Walhasil, teman-teman sekarang lebih baik fokus pada NU yang pendiriannya jelas oleh Yai Hasyim Asy'ari dan poro sesepuh terdahulu.
Baik secara kultural maupun struktural, apalagi yang muda-muda ini, jangan sampai goyah ikut organisasi sampelan kanan-kiri. Ya kali kalian ragu dengan barokahnya NU, apa kurang do'anya Kiai NU sampai-sampai ikut ormas di luar NU?
Wabil khusus santri dan alumni Lirboyo, tentu teringat betul pesan Mbah Yai Idris Marzuki bahwa,
"Santri Lirboyo ampun ngantos nderek Jam'iyah lintune NU".
(Santri Lirboyo jangan sampai ikut organisasi selain Nahdlatul Ulama)
- K.H. Idris Marzuki
Kejadin baru-baru ini menegaskan dawuh Yai Idris diatas jelas ada madhorot bila join ormas keagamaan selain NU.
Namun, sebagai negara yang membolehkan warganya bebas berekspresi, apabila sudah terlanjur nyebur di PWI, FPI maupun ormas lain, jangan sampai menjatuhkan pihak lain dengan cara yang munkar.
Boleh saling adu argumen tanpa temprament, tukar pendapat sembari ngehindari hujat. Saling merangkul tanpa memukul.
Bersaing secara sehat, jangan berbuat jahat.
Bukannya malu sesama Islam saling baku hantam?
Sekian wallohu 'alam.